Buah Cinta Hasan Al-Banna, sebuah kata pengantar (part 1)
Alhamdulillah saya ditawari menulis kata pengantar untuk sebuah karya yang sangat ‘mahal’ ini. Di samping mahal karena memang mendapatkannya jauh di negri orang, juga ‘Mahal’ karena manuskrip ini adalah produk pemikiran seorang arsitek peradaban abad 20 termasyhur Imam Syahid Hasan al-Banna ini . Menurut kisah dari penerbitnya, naskah tulisan itu didapat di area yang sepi pengunjung dalam sebuah pameran buku di kairo dan naskah itu sudah lusuh. Mahal karena tema tentang pandangan sang Arsitek ini ditunggu-tunggu oleh mereka para aktivis pergerakan . Apa dan bagaimana sebenarnya pandangan Imam syahid terhadap kiprah akhwat muslimah, bagaimana seharusnya ikhwan menyikapi aktivitas (gerakan) muslimah .
Perjalanan da’wah saya bertemu dengan kader-kader da’wah menampung banyak pertanyaan. Ketika berjumpa dengan kader akhwat maka tema yang masuk hampir sama “dulu sebelum nikah, aktif, setelah nikah tidak bisa aktif”, ‘’bagaimana umi, da’wah memberi saya amanah untuk menjadi fungsionaris, tapi suami saya tidak mengizinkan”, “ bagaimana umi, saya mendidik anak-anak sendirian, kalau anak-anak ada masalah yang disalahkan saya” , “bagaimana umi, bukankah da’wah itu harus diusung oleh muslim dan muslimah ?” Masih banyak pertanyaan yang senada seputar tentang peran muslimah dalam rumah dan luar rumah pada tataran praktis. Membumikan nilai-nilai yang dipelajari dan difahami dalam proses tarbiyah dalam kehidupan sehari-hari, sering tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Suatu kali Qailah Umm Bani Anmar pernah datang kepada Nabi meminta petunjuk-petunjuk dalam bidang jual beli . Kisah perempuan itu diuraikan dalam kitab Tabaqat Ibn Sa’id, antara lain dikisahkan bahwa Nabi memberi pesan tentang penetapan harga jual beli.
Isteri Nabi saw Zainab binti Jahsy, juga aktif bekerja sampai pada menyamak kulit binatang, dan hasil usahanya itu disedekahkan .
Asy-syifa, seorang perempuan yang pandai menulis, ditugaskan oleh Khalifah ‘Umar r.a sebagai petugas yang menangani pasar Kota Madinah.
Tidak sedikit perempuan yang sangat menonjol pengetahuannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan menjadi rujukan sekian banyak tokoh lelaki . Isteri Nabi saw ‘Aisyah ra adalah seorang yang sangat dalam pengetahuannya serta dikenal pula sebagai kritis. Beliau sangat dikenal karena kecerdasannya. Ungkapan yang dinisbahkan oleh sementara Ulama sebagai pernyataan Nabi Muhammad saw : “ Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari al-Humairah (‘Aisyah)” .
Asy-syaikhah Syuhrah yang digelar sebagai fakhr an-Nisa (kebanggaan perempuan ) adalah salah seorang guru Imam Syafi’I (tokoh mazhab yang pandangan-pandangannya menjadi anutan banyak umat Islam di seluruh dunia ).[1]
Kenyataan sejarah menunjukkan sekian banyak di antara kaum perempuan yang terlibat dalam soal-soal politik praktis, Ummu Hani’ misalnya dibenarkan sikapnya oleh Nabi Muhammad saw, ketika memberi jaminan keamanan kepada sementara orang musyrik, (jaminan keamanan merupakan salah satu aspek bidang politik ).
Demikian banyak contoh pada masa lalu tentang ragam aktivitas perempuan muslimah. Tidak diragukan akan kesempurnaan ajaran Islam tentang peran perempuan. Sebagai sebuah sistem nilai, Islam bukan hanya sekedar untuk dipelajari seperti sebuah ilmu,namun yang jauh lebih penting adalah mengamalkannya disertai pemahaman. Dari sekian banyak contoh di atas menggambarkan tentang beberapa hal. Pertama, Islam menepis semua anggapan dan budaya perilaku masyarakat yang merendahkan kaum perempuan. Kenyataan bahwa kaum perempuan direndahkan karena memang fakta menunjukkan perempuan menjadi ‘budak peradaban’ .contoh yang paling fenomenal adalah pada masa jahiliyah anak perempuan dikubur hidup-hidup, fisiknya yang halus menarik dan lemah lembut menjadikan perempuan sebagai cermin makhluk paling lemah sehingga mudah saja diperjualbelikan ,( terjadi pada salah satu periode masa Kekhalifahan Turki Ustmani suatu masa paling kelam bagi perempuan yaitu perempuan masuk perangkap ‘The slave market’ (pasar budak) dimana perempuan tanpa mengenakan busana diperjualbelikan di pasar seperti hewan )[2], tidak mendapatkan hak bicara dan berpendapat, diperlakukan semena-mena secara seksual. Karena begitu banyak terjadi ketimpangan sosial peran laki-laki dan perempuan ini, sehingga Nabi bersabda :”barangsiapa yang memiliki anak perempuan kemudian diberi pendidikan dengan sebaik-baik pendidikan kelak anak ini akan menjadi tabir dari siksa api neraka ‘’. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi bersabda “orang yang mulia adalah mereka yang memuliakan kaum perempuan”. Bahkan, Nabi memerintahkan untuk meminta pendapat anak perempuannya ketika akan mencarikan jodohny. Tidak hanya memuliakan , Nabi juga memperlakukan mereka dengan sebaik-baik perlakuan dengan memperhatikan perasaan kaum perempuan, berusaha tidak melukai perasaan mereka. Perhatikan kisah Nabi bersama isteri-isterinya, para shahabiyat, dan anak-anak perempuannya. Kedua, aktivitas perempuan muslimah pada masa lalu itu menggambarkan perempuan yang taat beragama , cerdas, terpelihara martabat keperempuanannya, dan harmoni kehidupan keluarganya, terbukti dengan sebelum melakukan aktivitas , kaum perempuan bertanya lebih dulu kepada Nabi, setidaknya mereka tidak bergerak sebelum mendapat restu dari sang Khalifah amirul Mu’minin. Ketiga, success story pada masa lalu itu tidak terlepas dari sukses membangun sinergi antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Tidak ada sebuah pekerjaan apapun di dunia ini yang tidak bisa dilakukan tanpa ada kerjasama antar manusia, khusus terkait membangun peradaban manusia yang sukses dan bermartabat hanya bisa dibangun dengan kerjasama yang harmoni , kompak, dan sinergis antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana Allah menyebutkan dalam al-Qur’an “ Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf , dan mencegah dari yang mungkar ….” ( 9 :71).
Diskursus tentang perempuan sepanjang sejarah tidak pernah selesai. Dari berbagai forum diskusi dan seminar dalam dan luar negri dimana saya berkesempatan hadir ,ada beberapa catatan . Pertama, pandangan bahwa perempuan bebas merdeka menentukan nasibnya sendiri tanpa harus bergantung dengan laki-laki. Perempuan memiliki dunianya sendiri dan harus menguasai dunia. Menurut pandangan ini, penyebab segala masalah kaum perempuan adalah kaum laki-laki. Pandangan ini menuntut ditegakkannya ‘gender equality’. Awal April 2008, saya mengikuti seminar Internasional dan executive commitee meeting ICW (International Council of Women) Asia Pasifik di Jakarta yang dihadiri peserta lebih dari 30 negara. ICW adalah sebuah LSM internasional perempuan yang didirikan pada tahun 1988 di Paris . Sejak didirikannya hingga saat ini tuntutan utama adalah masalah kesetaraan gender di berbagai bidang kehidupan.Hal ini terjadi bisa disebabkan salah satunya adalah karena mereka memang tidak mendapatkan keadilan gender. Kedua, pandangan yang mengharuskan perempuan di rumah saja. Menurut pandangan ini , tugas perempuan hanya rumah sementara tugas-tugas diluar rumah itu adalah tugas kaum laki-laki. Akibatnya, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan yang layak yang mesti diperolehnya. Padahal Pendidikan penting untuk menjadikan perempuan cerdas yang kelak bermanfaat untuk mengemban tugas-tugas utama sebagai isteri dan ibu.[3]
Perbedaan kedua pandangan ini lambat laun terbangun secara kultur dalam masyarakat kita. Menyebabkan perempuan kita di persimpangan jalan. Satu sisi ingin maju mengikuti gaya hidup bebas namun kehilangan jatidiri sebagai perempuan. Di sisi lain, bertahan dengan jatidiri sebagai perempuan namun tidak memiliki kemampuan mengembangkan diri. Hal ini berdampak pada pembentukan kualitas generasi penerus yang dimulai dari dalam keluarga. Pola asuh yang diwariskan secara turun temurun dengan cara pandang yang tidak berubah tentang pendidikan anak laki-laki dan anak perempuan dalam rumah menyebabkan terbentuknya karakter bangsa yang tidak berubah. Berapa banyak ibu-ibu yang berada diam dalam rumah namun banyak pula keluar dari rumah itu para penghuninya yang menjadi bagian dari masalah dalam masyarakat. Khusus untuk kasus Indonesia, data BNN tahun 2006, pengguna penyalahguna narkoba usia 15 – 30 tahun mencapai angka hampir 4 juta, data BKKBN tahun 2005 aborsi mencapai angka hampir 3 juta orang . Data terbaru ASA Indonesia yang diperoleh dari YKBH sepanjang tahun 2006,anak usia 9-12 tahun sejumlah sekitar 500 anak sudah terpapar pornografi 100%, dan hampir dipastikan Indonesia adalah Negara terkorup di Asia ,sebagaimana diketahui Indonesia adalah Negara dengan penduduk mayoritas muslim di dunia.
Berapa banyak kaum perempuannya yang meninggalkan rumah untuk aktualisasi diri ,dan berapa banyak pula karenanya rumah tangga cerai berai ,dan anak menjadi korban ‘broken home’ . Islam diturunkan untuk menjadi solusi dan jalan tengah bagaimana seharusnya perempuan muslimah beraktivitas secara proporsional untuk kemudian bersinergi dengan kaum laki-laki membangun peradaban yang bermartabat.
Saya ingin katakan disini bahwa keberhasilan membangun da’wah ini salah satu kuncinya adalah kerjasama yang kompak dan harmonis antara ikhwan dan akhwat , sama dengan jika ingin sukses membangun keluarga maka kerjasama suami isteri menjadi sangat penting, saling mengerti potensi masing-masing pasangan untuk kemudian menempatkan dirinya masing-masing secara proporsional dengan tidak meninggalkan hak dan kewajiban serta tugas-tugas utama .
Buku yang sedang anda baca ini wahai pembaca yang budiman menuntun kita bagaimana seharusnya kita bersikap dan mengaktualisasikan diri untuk bersama membangun da’wah menuju masyarakat dan Negara baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Pada akhirnya, persepsi dan aplikasi terpulang pada diri kita masing-masing dan masing-masing kita akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.
Kepada Penerbit, saya ucapkan terima kasih, jazakumullahu khoiron katsiiro. Insya Allah buku yang berisi kumpulan tulisan para pemikir pergerakan Islam ini memberi inspirasi yang bermanfaat merajut hari esok yang lebih baik . Wallahu a’lam bish-shawab
Wal ‘afwu minkum. Wassalamu ‘alaikum
Cimanggis, 15 Mei 2008
wirianingsih
[1] Mahmud, Jamal ad-Din, Huquq al Mar’ah fi al Mujatama’ al-Islami , al-Hai’ah al-Misriyyah, al-Ammah, Mesir,1986, hlm.77 dalam Muhammad Quraish Shihab,Konsep Wanita Menurut Qur’an, Hadis, dan Sumber-Sumber Ajaran Islam ,1993, hlm.12
[2] Substansi model perbudakan semacam ini sepanjang sejarah senantiasa terjadi, saat ini marak terjadi trafficking (perdagangan orang),hingga PBB menyelenggarakan Vienna Forum dalam rangka UN GIFT (UN Global Initiative to Fight Trafficking dengan tema “we are not for sale’’ pada tanggal 13 – 15 Februari 2008 di Wina, Austria
[3] Imam Syahid Hasan al-Banna menyebutkan dalam tulisannya tentang pentingnya kewajiban mendidik kaum wanita karena terkait tugas utamanya sebagai ibu.(hlmn 12)
Filed under: Uncategorized
Jazakillah khairan katsira atas tulisannya yang sangat inspiratif dan menggugah. semoga bisa menjadi penyemangat muslimah2 untuk bangkit dan mengoptimalkan potensinya.
senang sekali bisa membaca tulisan – tulisan ibu..
Praise be to Allah..jazakillah atas tanggapannya. umat menanti karya nyata yang positif. sister, bagus kalau diperjelas identitas. syukron
Artikel yang mencerdaskan….Terus berkarya. Hidup adalah masa karya kita bukanlah waktu yang kita miliki, tapi kita adalah amal yang kita lakukan.
trima kasih motivasinya. ”Kalaulah bukan mengharap panen, mana mungkin petani bersedia berlelah-lelah” (J rumi)
Semoga Allah SWT mencitai kita semua…
aamiin ya mujibussaailiin..
tulisan ini menjawab pertanyaan di kepala saya Bu..insyallah bolehkan saya ngopi tulisan ini Bu? buku ini sangat diperlukan untuk kita muslimah yang aktif di publik
silahkan saja.Namanya ilmu semakin disebar luas,Insya Allah semakin banyak manfaat.(kecuali ilmu sihir).mudah2an pahalanya terus menerus mengalir hingga yaumil akhir. aamin. ‘but don’t forget to write on the foot note who has written that paper”. sebutkan saja sumber tulisan supaya bisa dipertanggungjawabkan.
Jazakillah atas perhatiannya.
wanita sekarang sedikit demi sedikit seperti dahulu bedanya denagn sekarang wanita terjerumus karna diri mereka sendiri bukan karna orang lain
apa maksudnya ya?