Bulan lalu, tepatnya tanggal 13 dan 14 November saya menghadiri Konferensi Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon yang diselenggarakan oleh 7 organisasi perempuan (berpengaruh) Indonesia yaitu SIKIB (Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu ), KOWANI, Dharma Wanita Persatuan, Dharma pertiwi, Isteri Bhayangkari, Tim Penggerak PKK, dan APPB ( Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan) di Gedung Balai Kartini ,Jakarta Selatan. Acara dibuka resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono. Peserta datang dari seluruh Indonesia yang mewakili berbagai posisi dan jabatan strategis di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota, antara lain Isteri Gubernur ,isteri Bupati/Walikota, Ketua2 BKOW/GOW, Perwakilan Dharma Wanita Pusat dan Propinsi, serta Pimpinan Organisasi Perempuan
dan Organisasi Massa Perempuan Nasional Tingkat Pusat. Jumlah sekitar 1500 orang.Saya hadir sebagai Ketua Umum PP Salimah yang merupakan anggota KOWANI.
Acara selama 2 hari berlangsung megah, meriah, dan pasti bermanfaat minimal untuk masing-masing peserta. Megah, karena penyelenggaraanya di Gedung yang Megah dengan resepsi kelas pejabat. Meriah karena dilengkapi dengan pameran yang terkait gerakan tanam dan pelihara pohon antara lain :promosi agar masyarakat Indonesia kembali ke alam,dan kembali mengkonsumsi pangan asli Indonesia yang serba sehat, serta pameran produk olahan pangan yang berasal dari bumi Indonesia. Pameran ini menggugah hadirin bahwa Indonesia kaya dengan sumber daya alam dan kaya dengan keanekaragaman hayati sebagai sumber ketahanan pangan masyarakat.
Menteri Pertanian,DR.Ir.anton Apriantono menyebutkan bahwa sebenarnya tidak akan terjadi kekurangan gizi atau kelaparan jika masyarakat Indonesia mencapai ketahanan pangan, yang dapat diproduksi dari pekarangan sendiri atau alam sekitarnya yang dimanfaatkan secara maksimal. Beliau mengatakan bahwa mulai dari sekarang hindari pameo “belum makan kalau belum makan nasi”. Sebab banyak makanan pengganti yang nilainya setara dengan nasi termasuk lauk pauknya. Semisal umbi-umbian , ikan, dan sebagainya.
Dan yang pasti bermanfaat adalah selama 2 hari peserta disuguhi berbagai macam materi dan info tentang membangun ketahanan pangan masyarakat, pula dibekali dengan buku-buku, berkas, dan VCD materi para pembicara. Bahkan di dalam kit (yang kami dapat secara gratis) diisi dengan beberapa poster ibu Ani SBY sedang menanam pohon ketika cucu pertamanya lahir. Dalam poster tertulis “Tanam Satu Pohon Setiap Kelahiran Anak”. JIka setiap hari lahir 100.000 anak, maka ada 100.000 ribu pohon ditanam untuk kelangsungan penyelamatan bumi !.
Buat saya, acara ini tidak sekedar seperti apa yang saya sampaikan di atas. Konferensi Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara ini adalah sebuah perwujudan konkrit dari sebuah gerakan yang tidak hanya bermain di tingkat ideologi dan wacana. Gerakan tanam dan pelihara adalah lambang sebuah pewarisan nilai tentang masa depan. Tanam bermakna tentang harapan untuk hari esok, pelihara bermakna ungkapan sejati tentang perawatan dan kasih sayang. Dua hal ini adalah esensi fitrah manusia. Berharap hari esok lebih baik. itu cita-cita setiap insan. dan oleh karenanya manusia selalu ingin mengelola harapan ini ,sehingga selalu ingin bekerja dengan merajut karya dalam waktu yang tiada henti terus berputar dan berubah. Kasih sayang adalah kebutuhan asasi setiap insan. Ini juga anugrah dari yang Maha Kuasa. Maka oleh karenanya, manusia tidak punah hingga kini.
Gerakan perempuan Tanam dan Pelihara ini adalah bagian dari gerakan perempuan yang substantif, konkrit, dekat dalam kehidupan, mudah ,dan memberi efek perubahan dari generasi ke generasi tentang penyelamatan bumi. Gerakan ini menjadi efektif karena dimulai dari ‘political will’ Ibu Negara yang diikuti oleh berbagai tokoh perempuan Indonesia yang tergabung dalam organisasi perempuan yang memiliki massa akar rumput dari berbagai tipe. Juga memiliki kekuatan instruksi karena melalui jalur struktur formal. Jika Penggerak PKK tingkat Pusat memberikan instruksi kemudian diikuti oleh tim penggerak PKK sampai ke tingkat desa, bisa dibayangkan seperti apa kaum ibu menanam pohon di seluruh wilayah Indonesia hingga daerah terpencil. Bagaimnana jika gerakan ini diikuti oleh semua organisasi perempuan yang berpengaruh ! Bumi Indonesia ke depan terhindar dari bencana yang mengerikan. Gejala bencana sudah mulai tampak : banyak tanah longsor, semakin berkurangnya area penyerapan air, banjir yang melanda hampir semua wilayah Indonesia,polusi udara yang semakin kotor dan udara yang semakin memanas.
Saya berharap gerakan ini menandai bangkitnya kembali kesadaran Bangsa Indonesia dari keterpurukan berbagai bidang. Meski sederhana namun memiliki efek domino terhadap perubahan . Selamat untuk Gerakan Perempuan Tanam dan pelihara yang dipelopori oleh 7 organisasi perempuan.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | 1 Komentar »